Beranda > Nasional > Meminimalisir Konflik Dengan Kearifan Lokal

Meminimalisir Konflik Dengan Kearifan Lokal


Berita tentang kerusuhan massa yang dimuat di seluruh media publikasi baik cetak maupun elektronik beberapa hari terakhir cukup mengagetkan dan membuat miris. Belum selesai kita disiguhi berita tentang kerusuhan massa di Tarakan Kalimantan Timur, kita sudah dihadapkan pada sebuah berita bentrokan antara dua kelompok massa di depan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel). Dari dua kejadian tersebut tercatat 8 orang tewas, 5 orang menjadi korban kerusuhan tarakan sedangkan sisanya merupakan korban bentrokan di Jakarta Selatan.

Selain munculnya rasa tidak aman pada sebagian besar warga, fenomena ini sungguh membuat siapapun yang mendengar dan meyaksikannya akan mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan semua ini bisa terjadi? Hal-hal sepele saja bisa menyulut amarah yang berbuntut terjadinya kerusuhan. Mulai dari rebutan lahan, bentrok antar pendukung klub sepakbola, tawuran pelajar, aksi anarkis geng motor, sampai dengan hal-hal berbau SARA. Bukankah selama ini bangsa Indonesia dikenal dengan keramah tamahannya? Bahkan selama berabad-abad bangsa Indonesia umumnya hidup rukun tanpa benturan yang berarti. Falsafat Pancasila yang bertumpu pada agama lewat Ketuhanan Yang Maha Esa memberi konsep kedamaian abadi.

Konflik horizontal antar warga yang terjadi belakangan ini di Indonesia memang bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya tentunya kita pernah mendengar kerusuhan di daerah-daerah rawan konflik seperti tawuran di Matraman, Bukit Duri, Johar Baru, Keramat Tunggak, Glodok, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku Selatan dan Utara, Papua, Bali, dll.

Berbagai penelitian dilakukan untuk mencari akar permasalahan penyebab terjadinya konflik serta sekaligus dicari pula solusi komprehensif yang setidaknya dapat meminimalisir konflik. Namun tetap saja daerah-daerah rawan konflik tersebut tak pernah berhenti bergejolak. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dari seluruh pihak yang berkompeten khususnya dan seluruh elemen bangsa pada umumnya agar kerukunan berbangsa dan bernegara dapat tercipta dengan optimal.

Salah satu hal yang dapat dijadikan sebagai tools untuk meminimalisir konflik adalah kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal atau yang lebih dikenal dengan sebutan local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Ciri kearifan lokal yang berporos pada proses sebuah kebaikan ketimbang aplikasi semata menjadikannya sangat jauh dari hal yang instan sehingga menjadi cermin budaya bagi masyarakatnya, menjadi akar dalam pedoman kehidupan yang turun temurun, menjadi warisan bangsa.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai kearifan lokal khasnya masing-masing. Meskipun kearifan-kearifan lokal ini kian tergerus oleh arus modernisme dan globalisasi namun tidak ada salahnya kita berusaha melestarikan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa diantaranya yang bisa kita angkat adalah beberapa pepatah berikut ini :

  • Sugih tanpa bandha, Nglurug tanpa bala, sekti tanpa aji, menang datan (tanpa) ngasorake. Diterjemahkan : Kaya tanpa harta, maju ke medan pertempuran tanpa bala tentara atau mengerahkan massa, sakti atau mempunyai kekuatan/power tanpa harus mengandalkan kekuatan dan kekuasaannya, dan dapat memenangkan perkara tanpa harus merendahkan atau melecehkan orang lain.  Menghargai dan menjaga jangan sampai melukai batin orang lain lebih diutamakan. Karena tidak seorangpun suka direndahkan.  Fokus utamanya adalah penyelesaian masalah, bukan merasa menang telah mengkritik habis-habisan orang lain, sampai orang merasa tidak punya muka lagi.  Bukan begitu menjadi manusia yang utama, tapi tetap rendah hati.  Cukup disimpan dalam hati, jangan merendahkan orang lain.  Karena bisa jadi suatu saat kita pun dalam kondisi seperti orang yang kita rendahkan.  Justru dengan kerendahan hati bisa semakin dihargai dan dapat memenangkan perkara tanpa harus ada yang terluka. Hal ini termasuk juga teknik menguasai massa.
  • gono ya ngono ning mbok ya aja ngono, (begitu ya begitu tapi yahh…jangan begitulah).  Maksudnya adalah jangan mentang-mentang.  Mungkin sedang dalam posisi yang benar, tapi jangan mentang-mentang benar terus seenaknya, tidak menghargai orang lain. Tetap rendah rendah hati, terima kekurangan orang lain.  Tidak semua hal layak diperdebatkan, apalagi sampai mempermalukan orang lain.  Memang kadang ini tidak mengenakkan tapi apakah kemudian puas setelah melecehkan orang?
  • Handep Hapakat (Persatuan dan Kesatuan Semua Komponen Masyarakat atau Gotong Royong)

Dua pepatah pertama berasal dari daerah jawa, sedangkan yang terakhir adalah motto masyarakat Pulang Pisau. Klo kita perhatikan ternyata pepatah-pepatah tersebut mengandung pelajaran dan filosofis teramat dalam yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari meskipun pepatah-pepatah tersebut bukan berasal dari daerah kita, karena sebuah kebaikan bersifat universal dapat diterapkan di mana saja dan kapan saja tanpa dibatasi ruang, waktu, dan teritori.

Bahkan semboyan bangsa Indonesia Bhineka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda tetapi satu jua seharusnya menjadi cermin dan pedoman bagi kita bahwa keanekaragaman suku bangsa, bahasa, dan budaya bangsa ini diikat dan dipersatukan dengan sebuah cita-cita, visi, dan tujuan. Sehingga di masa yang akan datang bangsa ini menjadi bangsa yang besar, lebih dewasa, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Semoga!   

Referensi : http://www.depsos.go.id , http://www.berita2.com, http://www.bbc.co.uk/indonesia, http://calondetektif.wordpress.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: